Saturday, 31 March 2018

SKENARIO PEMBELAJARAN YANG MENGGUNAKAN METODE – METODE BELAJAR III


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Yang melatarbelakangi masalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas sesuai dengan mata kuliah yang sedang dipelajari dan ditugaskan oleh dosen pembimbing dengan judul “ Skenario Pembelajaran Yang Menggunakan Metode Belajar”.
Untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan maka pembelajaran itu harus memiliki skenario yang baik, karena skenario merupakan salah satu diantara yang paling penting untuk kelancaran dalam proses pembelajaran. Dengan adanya skenario seorang pendidik akan lebih mudah melakukan pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan. Sehingga pembelajaran akan lebih efektif.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan pembahasan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana skenario pembelajaran itu, sehingga mempermudah seorang guru untuk melakukan suatu pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
2.2.1 Pengertian Skenario
Pengertian secara umum, skenario adalah urutan cerita yang disusun oleh seseorang agar suatu peristiwa terjadi sesuai yang diinginkan. Pengertian Khusus , Skenario adalah naskah cerita yang ditulis dengan istilah-istilah kamera yang digunakan sebagai panduan untuk pembuatan sebuah tayangan ( Film, Sinema , Elektronik/Sinetron Drama).
Menurut Peter Scwartz, skenario adalah a tool (for) ordering one’s perseption about alternative future environments in which one’s decision might be played out right. Jadi skenario adalah sebuah gambaran yang konsisten tentang berbagai kemungkinan (keadaan) yang dapat terjadi di masa yang akan datang. Jika melihat definisi di atas maka dapat dijabarkan bahwa skenario bukanlah sebuah forecasting (ramalan) dalam pengertian bahwa skenario bukanlah sebuah proyeksi masa depan dari data yang ada pada masa kini. Skenario juga bukan sebuah visi (vision) atau kondisi masa depan yang diinginkan.
 2.2.2 Pengertian Pembelajaran
Pengertian pembelajaran sangat luas, ada beberapa pengertian pembelajaran dari beberapa sumber yakni :
Pembelajaran adalah proses komunikatif-interaktif antara sumber belajar, guru dan siswa saling bertukar informasi. Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran (Oemar Hamalik, 1995:57).

Pembelajaran secara etimologis dalam kamus bahasa Indonesia, berasal dari kata “ajar dan belajar”, ajar berarti petunjuk yang diberikan kepada orang lain agar diketahui. Secara terminologis belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian ilmu, membaca dan berlatih atau berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Tabrani berpendapat bahwa “Pembelajaran pada dasarnya adalah proses mengkoordinasikan sejumlah tujuan, bahan, metode alat dan penilaian. “Pembelajaran adalah proses cara menjadikan orang atau makhluk hidup belajar, atau proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi pengaruh prilaku kearah yang lebih baru. Bagne dalam bukunya Margaret E. Bell Bliedier mengungkapkan bahwa “Pembelajaran diartikan sebagai cara dari guru guna mendukung terjadinya kegiatan belajar yang dilakukan siswa”.

2.2.3 Pengertian Skenario Pembelajaran
Setelah kita mengetahui pengertian skenario dan pengertian pembelajaran, maka kita dapat mengambil kesimpulan pengertian skenario pembelajaran merupakan urutan cerita yang disusun oleh seseorang guru agar suatu peristiwa pembelajaran terjadi sesuai dengan yang diinginkan.

2.2 Langkah-Langkah Pembuatan Skenario
Dalam skenario terdapat langkah-langkah pembuatan scenario diantaranya:
·         Identify focal Issue (focal Concern) or decision.
Maksudnya adalah mengidentifikasikan isu utama atau masalah utama yang akan menjadi fokus untuk dijawab atau untuk diambil keputusannya.
·         Identify Key Forces.
Maksudnya adalah mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang diperkirakan akan mempengaruhi focal issue di masa yang akan datang.
·         Identfy Driving Forces change drivers).
Dalam langkah ini harus mampu mengidentifikasi kekuatan-kekuatan yang dapat mendorong perubahan-perubahan yang berkaitan dengan key forces di atas. Secara umum dalam konteks ilmu sosial dan ilmu politik, driving forces yang sering sekali teridentifikasi adalah faktor sosial, faktor politik dan faktor ekonomi.
·         Identidikasi Ketidakpastian (Identify Uncertainty).
Dalam langkah ini harus mencoba mengidentifikasi ketidakpastian dari berbagai hal yang erat kaitannya dengan sosial, politk, dan ekonomi.
·         Selecting the scenario logic.
Di dalam tahap ini, kita harus menyusun logika skenario melalui suatu kualitatif terutama melalui wawancara mendalam atau dengan malakukan Fokus Group Discussion untuk mendapatkan suatu skenario dengan alternative-alternatif lainnya secara logis.
·         Fleshing out the scenario.
Tahap ini merupakan tahap penguatan skenario. Pada tahap ni, perumus skenario dapat menambahkan berbagai data sekunder dan trennya untuk memperkuat berbagai pendapat dari narasumber dan para ahli yang sudah didapat dan ditulis pada tahap sebelumnya.
Skenario yang telah terbentuk dengan berbagai alternatifnya ini kemudian digunakan untuk menggambarkan tantangan bagi suatu organisasi (Negara, militer, perusahaan, dan lain-lain). Gambaran dari tantangan tersebutlah bersama-sama dengan penilaian terhadap kondisi organisasi yang ada dipakai untuk menetapakan suatu stratedi (scenario planning) apa yang akan dibuat bagi kepentingan organisasi untuk tetap bertahan, atau untuk dapat mencapai tujuan yang ditetapkan. Dengan kata lain, jika skenario telah selesai dideskripsikan dan tantangan telah dirumuskan, maka langkah berikutnya adalah merumuskan strategi yang harus dibangun dan dijalankan agar skenario buruk yang mungkin terjadi dapat dihindari.

2.3 Langkah Kerja Menyiapkan Skenario Pembelajaran
Terdapat beberapa langkah kerja dalam menyiapkan skenario pembelajaran, diantaranya:
·         Pelajari LKS (Lembar Kerja Soal) yang akan digunakan oleh siswa guna mengetahui materi apa yang akan dipelajari dan dengan cara bagaimana guru akan memfasilitasi peserta didik.
·         Tentukan waktu, peralatan atau alat bantu yang akan digunakan dalam pembelajaran.
·         Tulis langkah-langkah yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran sesuai dengan tahapan-tahapan pembelajaran yang direncanakan.
·         Langkah-langkah pembelajaran ditulis secara lengkap.
·         Tuliskan rencana penilaian terhadap kegiatan belajar.
·         Kriteria keberhasilan hasil penilaian dapat dirinci secara detail dan mencakup tiga rangkap yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor.

2.4  Contoh Skenario Pembelajaran
Mata Pelajaran            : Bahasa Arab
Satuan Pendidikan      : Sekolah Dasar
Kelas/Semester            : IV / 2
Waktu                                     : 2 jam pelajaran
Ø  Kompetensi Dasar
·         Mengenal mufrodat (kosakata), minimal disekitar kelas.
·         Hasil Belajar
·         Siswa mampu menyebutkan kosakata yang telah diajarkan.
·         Indikator Hasil Belajar
·         Mengetahui mufrodat (kosakata) disekitar lingkungannya.
·         Menuliskan mufrodat (kosakata) yang akan dipelajari.
·         Menghafal mufrodat (kosakata) disekitar lingkungannya.
·         Menyebutkan mufrodat yang kelah dihafal.
·         Mengaplikasikan mufrodat dalam kesehariannya di kelas.

2.5 Skenario Pembelajaran
Ø  Pendahuluan Pengorganisasian kelompok kecil untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, guru menunjukkan beberapa mufrodat di kelas dan murid menyebutkannya.
Ø  Kegiatan Inti
Guru menyuruh siswa untuk menyebutkan kosakata yang ditunjukan oleh guru.
Salah seorang siswa menyebutkan semua kosakata yang telah disampaikan guru.
Guru menyuruh siswa untuk mencari teman agar bisa berkomunikasi satu sama lain.
Guru menyuruh membuat kalimat dari salah satu mufrodat yang telah disampaikan.
Ø  Penutup
Guru mengajukan pertanyaan untuk menguji pemahaman siswa.
Dengan bimbingan guru siswa membuat kalimat dari mufrodat tersebut sebagai suatu catatan.
Guru memberikan motivasi agar mufrodat yang telah diajarkan dan dihafal siswa dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

2.6 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam pembelajaran adalah: benda disekitar kelas (buku, pensil, penghapus, jendela, pintu dan lain-lain).
 2.7 Penilaian
Penilaian performa, pengamatan pada saat siswa melakukan komunikasi dengan temannya.Tes lisan, tanya jawab tentang kegiatan yang baru dilakukan siswa.. sesuai dengan indikator kompetnsi yang akan dicapai dalam pembelajaran dan tes tulis.
  BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sebuah sistem pembelajaran akan lancar sesuai dengan harapan seorang pendidik atau guru, hal ini akan tercapai apabila memenuhi salah satu syarat dalam komponen pembelajaran. Dan sebagaimana dijelaskan di muka, skenario adalah salah satu diantara yang paling penting dalam kelancaran proses pembelajaran.
Dalam penyusunan skenario pun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, salah satunya adalah langkah-langkah pembuatan skenario pembelajaran tersebut, langkah-langkahnya antara lain:
Kita harus mempelajari LKS (Lembar Kerja Soal) yang akan digunakan oleh siswa guna mengetahui materi apa yang akan dipelajari dan dengan cara bagaimana guru akan memfasilitasi peserta didik
Kita harus menulis langkah-langkah yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran, sesuai dengan tahapan-tahapan pembelajaran yang direncanakan. Dan langkah-langkah pembelajaran tersebut ditulis secara lengkap tentang apa yang dilakukan oleh guru terhadap siswa.
Kita harus menuliskan rencana penilaian terhadap kagiatan belajar peserta didik. Penilaian dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan pada setiap akhir kegiatan pembelajaran.



BIMBINGAN KONSELING KELOMPOK


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Kelompok merupakan bagian dari kehidupan manusia. Setiap manusia dalam berbagai kegiatan apapun manusia akan terlibat dalam aktivitas kelompok. Demikian pula kelompok merupakan bagian dari kehidupan organisasi. Dalam organisasi akan banyak ditemui kelompok-kelompok seperti ini. Hampir pada umumnya manusia yang menjadi anggota dari suatu organisasi besar atau kecil adalah sangat kuat  kercenderungannya untuk mencari keakraban dalam kelompok kelompok tertentu. Di mulai dari adanya kesamaan tugas pekerjaan yang dilakukan, kedekatan tempat kerja, seringnya berjumpa dan berapakali adanya kesamaan kesenangan bersama, maka timbullah kedekatan satu sama lain, dan mulailah mereka berkelompok dalam organisasi tertentu.
Tantangan yang paling berat dihadapi oleh organisasi dengan meningkatnya perubahan adalah perbedaan individu yang ada di dalam organisasi, yang selanjutnya akan membentuk prilaku kelompok. Salah satu topik menarik dalam bidang perilaku organisasi untuk ditelaah atau diteliti adalah mengenai perilaku kelompok. Kelompok merupakan bagian dari kehidupan manusia, setiap hari manusia akan terlibat dalam aktivitas kelompok. Demikian pula kelompok merupakan bagian dari kehidupan organisasi. Hal ini akan saling bersinergi manakala aktifitas akan bersentuhan satu sama lain dalam membentuk satu capaian yang di inginkan bersama.
Kelomppok dapat mengubah motivasi individu atau kebutuhan, dan bisa mempengaruhi prilaku individu dalam satu kondisi organisasi. Perilaku organisasi adalah lebih dari sekedar kumpulan logika dari perilaku individu. Juga prilaku kelompok yang juga berinteraksi dan aktivitas dalam kelompok.

1.2 Tujuan
1.      Mengetahui bagaimana cara berprilaku dalam berorganisasi.
2.      Bisa menyesuaikan prilaku yang seharusnya dilakukan dalam berorganisasi.
3.      Untuk menjadi pedoman dalam mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.


BAB III
PEMBAHASAN

2.1 Proses Kelompok dan Prilaku Anggota
Proses kelompok dan perilaku anggota telah menjadi bagian yang semakin sentral disiplin psikologi sosial, menangani masalah prasangka, diskriminasi, pengurangan konflik, persuasi dan pengaruh sosial, kekuasaan, pengambilan keputusan kelompok dan loyalitas etnis.
Program ini membahas isu-isu penelitian meliputi utama dan saat ini seperti kontak antarkelompok, proses sosial dan kognitif yang mendasari prasangka, diskriminasi, protes kolektif, pengambilan keputusan kelompok, kepemimpinan dan kinerja kelompok. Hal ini diakui oleh Dewan Ekonomi dan Sosial Research sebagai dasar untuk penelitian PhD dan mahasiswa cocok didorong untuk pergi untuk mendaftar untuk gelar PhD.
Psikologi Kent menawarkan lingkungan yang mendukung, dinamis dan beragam untuk penelitian kreatif dan belajar. Kami sangat dihargai sebagai pusat Eropa terkemuka untuk penelitian pascasarjana. Reputasi internasional lama terbentuk kami dalam psikologi sosial dilengkapi dengan kekuatan kami dalam psikologi kognitif, perkembangan dan forensik. Sekolah ini menarik ulama mengunjungi baik dan mahasiswa pascasarjana dari kedua di Inggris dan luar negeri. Beberapa mahasiswa PhD kami didanai sendiri, dan lain-lain didanai oleh hibah atau penghargaan baik dari Sekolah, Inggris atau negara asal mereka. Beberapa juga dibayar untuk melakukan pengajaran paruh waktu dalam Sekolah.
Sekolah memiliki track record yang kuat untuk menarik ESRC dana penelitian beasiswa, yang melibatkan kemitraan dengan organisasi eksternal seperti Age Concern Inggris dan Kesetaraan dan Komisi Hak Asasi Manusia dan Student ships kolaboratif dengan mitra seperti People Amerika.

2.2 Interaksi Dalam Kelompok
2.2.1 Teori keterpaduan kelompok
a. Teori Praeksperimental
1.      Gustave Le Bon (dalam Sarwono, 2001:83-85), yang menyatakan bahwa massa (crowd) mempunyai pikiran-pikiran, gagasan-gagasan dan kehendak sendiri yang tidak sama dengan yang ada pada pribadi. Massa mempunyai jiwa (Perancis:Ame) yang berbeda dengan jiwa pribadi. Ame kelompok adalah irasional, impulsif, agresif, tidak dapat membedakan khayalan dan kenyataan, dan bagai dipengaruhi hipnotis.
2.      McDougall, menyetujui bahwa jiwa massa berbeda dengan jiwa individu. Sebagai pengendali perilaku kelompok adalah naluri emosi. Naluri emosi membedakan perilaku kelompok yang teterorganisir dan tidak terorganisir. Perbedaannya adalah pada naluri takut dan marah yang sifatnya primitif. Jika naluri primitif yang disentuh, kumpulan orang yang manapun akan bereaksi primitif (impulsif, agresif, destruktif). Tetapi ada emosi-emosi yang lebih tinggi yang sama-sama tumbuh dalam kelompok tertentu. Misalnya jika terjadi tawuran antar pelajar SMP maka para pejalan kaki, penumpang bus dan pedagang kaki lima tidak ikut-ikutan (terlibat). Jiwa kelompok barn timbul jika terdapat 4 faktor yang menyebabkan yaitu:
ü  Kelangsungan keberadaan kelompok.
ü  Adanya tradisi, kebiasaan, adat.
ü  Ada organisasi dalam kelompok (diferensiasi fungsi).
ü  Kesadaran diri kelompok.
Tentang solidaritas kelompok menurut McDougall tergantung pada:
ü  Pengetahuan tentang kelompok.
ü  Attachment (keterikatan) kepada kelompok.
ü  Bion, merupakan penganut psikoanalisis. Berpendapat bahwa kelompok tidak sama dengan kumpulan individu, tetapi merupakan kesatuan dengan ciri dinamika dan emosi sendiri. Kelompok merupakan makrokosmos individu. Analog dengan individu, kelompok dikendalikan oleh 3 sistem psikologi yaitu:
ü  Id yang berupa kebutuhan dan motif kelompok .
ü  Ego yang berupa tujuan dan mekanisme kerja kelompok.
ü  Superego yaitu keterbatasan-keterbatasan kelompok.
b. Teori-teori eksperimental
1.      Festinger, Schachter &• Black, menyatakan bahwa keterpaduan kelompok (group cohesiveness) diawali oleh ketertarikan terhadap kelompok dan anggota kelompok, dilanjutkan dengan interaksi social dan tujuan-tujuan pribadi yang menuntut ketergantungan. Selanjutnya kekuatan-kekuatan di lapangan akan menimbulkan perilaku kelompok berupa kesinambungan keanggotaan dan penyesuaian terhadap standar kelompok. 
2.      Lott & Lott, menyimpulkan bahwa keterpaduan kelompok dipengaruhi oleh hal-hal berikut: 
ü  Hubungan antar relatif sukarela antara orang-orang yang tidak terlalu jauh berbeda dalam hal-hal yang menjauhkan antarpribadi, seperti suku dan ras.
ü  Hubungan kerjasama atau kompetisi yang masih dalam batas-batas yang sesuai dengan norma.
ü  Penerimaan oleh orang-orang (saling menerima).
ü  Adanya ancaman atau bahaya dari luar yang hams dihadapi bersama.
ü  Status yang homogen, status yang tingggi atau adanya ketidakmungkinan untuk naik ke status yang lebih tinggi.
ü  Perilaku dan sifat-sifat pribadi yang berguna untuk memenuhi fungsi kelompok yang khusus (misalnya bersuara bagus untuk kelompok paduan suara, ahli bela diri untuk kelompok gangster).
ü  Sikap, nilai-nilai dan Tatar belakang yang sama dan kepribadian yang saling mengisi dan relevan dengan eksistensi dan tujuan kelompok .
ü  Adanya ritual (upacara, kebiasaan, tradisi, basa-basi) dan inisiasi (masa percobaan) yang tidak menyenangkan.
Dampak dan keterpaduan kelompok adalah sebagai berikut:
ü  Agresivitas sebagai reaksi terhadap gangguan dan luar.
ü  Evaluasi diri, menilai diri sendiri positif oleh orang-orang yang menyenangi da'n menilai positif orang-orang yang disenangi.
ü  Evaluasi yang berlebihan tentang kemampuan atau keunggulan kelompok sendiri.
ü  Evaluasi positif terhadap kelompok dan hal-hal yang berhubungan dengan kelompok.
ü  Persepsi tentang kesamaan antarpribadi dalam hal sikap, perilaku dan kepribadian.
ü  Komunikasi yang lebih bebas hambatan.
ü  Konformitas pada standar kelompok yang berkaitan dengan sikap dan perilaku (penampilan).

2.3 Teori Identitas Sosial
Dipelopori oleh Henri Tajfell, dalam upaya untuk menjelaskan prasangka, diskriminasi, konflik antar kelompok dan perubahan sosial. Perilaku kelompok berbeda dengan perilaku individu. Yang termasuk dalam perilaku kelompok adalah ethnosentrisme, group bias, kompetisi dan diskriminasi antar kelompok, stereotip, prasangka, konformitas dan keterpaduan kelompok. Proses yang mendasari perilaku kelompok adalah kategorisasi dan perbandingan sosial. Hal ini menekankan pada penekanan persamaan terhadap hal-hal yang terasa sama dan penekanan pada perbedaan pada hal-hal yang terasa berbeda. Pada akhirnya kategorisasi dan perbandingan sosial ini meningkatkan persepsi ingroup. Tidak ada kebenaran yang semata-mata obyektif, semua kebenaran disimpulkan dari perbandingan.
Teori identitas soisal juga digunakan untuk menjelaskan perubahan sosial pada tingkat makro sosial yaitu:
ü  Mobilitas sosial, adalah perpindahan individu dari kelompok yang lebih rendah ke kelompok yang lebih tinggi yang terjadi jika peluang untuk hal ini terbuka.
ü  Perubahan sosial itu sendiri, misalnya dengan menggeser statusnya ke atas dalam kelompok atau meningkatkan citra kelompok.

2.4 Teori Kategorisasi Diri
Dikemukakan oleh Turner, memberikan tekanan pada faktor kognisi. Dasar dan teori ini adalah bahwa orang-orang menggolongkan diri dalam berbagai tingkat abstraksi; ingroup-outgroup (identitas sosial), bodoh-pandai, cantik-jelek, pemimpin-pengikut, kaya-miskin dan lain-lain. Terjadinya kategorisasi din menurut Rabbie, Schot & Visser, bukan disebabkan oleh karena setiap orang mencari identitas diri sosial yang positif, melainkan karena setiap orang menginginkan untuk memaksimalkan keuntungan bagi dirinya sendiri dalam kelompok (economic self interest).
Teori identitas sosial dan kategorisasi diri menjelaskan hubungan antar kelompok:
ü  Kategorisasi din dan pemberian prioritas kognitif (cognitive priming) meningkatkan persepsi tentang homogenitas dalam kelompok.
ü  Kecenderungan polarisasi (kategorisasi dua kutub misalnya hitam-putih) dapat meramalkan ektremitas.
ü  Kelompok yang mempunyai harga din rendah, tidak dapat melepaskan diri dari pengalaman masa lalu.
ü  Identitas sosial dapat menggunakan berbagai kategorisasi, yang paling sering adalah ras, etnik dan warna kulit.
ü  Kelompok minoritas lebih menunjukkan diferensiasi daripada kelompok mayoritas. 
2.5 Perbedaan Antara Konseling Kelompok Dengan Psikoterapi Kelompok
2.5.1 Konseing Kelompok
Konseling kelompok merupakan proses konseling yang dilakukan dalam setting kelompok untuk membanu individu dala engatasi masalah yang dihadapi secra bersama-sama.
Dalam konseling kelompok konselor atu psikologi dengan latihan khusus bekerja dengan kelompok yang dapat menjadi fasilitataor dalam kegiatan konseling kelompok. Metode yang digunkan berpusat pada proses kelompok dan perasaan anggotanya, jumh anggota 2-7 orang disetiap kelompoknya. Peran anggota konseling kelompok aktif membahas masalah pribadi serta memecahkan masalah orang lain atau dalam mengembangkan upaya pengembangan pribadi anggota. Teknik yang digunakan psiko-edukasional, kegiatan konseling kelompok dapat berlangsung sesuai dengan tingkat ketuntasan pemecahan masalah individual anggota.

 2.5.2        Bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok merupakan bantuan terhdap individu yang dilaksanakan dalam situasi kelompok. bimbingan kelompok dapat berupa penyampaian informasi ataupun aktivitas kelompok membahas masalah-masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi dan sosial.
Dlam bimbingan kelompok fasilitator yang dapat memberi bimbingan seperti guru, konselor, petugas pemberi bantuan yang profesional. Metode yang digunakan seperti instruksional, informasi, berorientasi pada materi yang dijarkan, penyajian terstruktur, presentasi ceramah atau diskusi. Jumlah anggota dalam bimbingan kelompok 2-15 orang, bentuk kegiatan berupa permainan instruksional, suasana interaksi dalam bimbingan konseling multi arah dan aktif
2.5.3 Psikoterapi kelompok
Psikoterapi kelompok adalah terapi dimana orang yang memiliki penyakit emosional yang dibimbing oleh ahli terapi yang terlatih untuk mebantu satu sama lainnya dalam menjalani perubahan kepribadian.
Dalam psikoterapi kelompo fasilitator yang memberi materi psikoterpi khusus dan petugas yang mempunyai latar belakang dan latihan mengenai individual yang “upnormal”. Metode yang digunakan berpusat pada proses kelompok dan perasaan anggotanya, jumlah anggota berkisar 5-10 orang tetapi jumlah yang ideal untuk kelompok adalah 7 atau 8 orang. Anggota yang mengikuti psikoterapi kelompok adalah individu yang neorotis dan psikotis yang membutuhkan perawatan pengubahan kepribadian, peran pembimbing harus dapat menciptakan dan memelihara kelompok, membangun budaya kelompok aktivasi dan aluminasi, lama kegiatan psikoterapi kelompok nara 80 hingga 90 menit dalam sekali pertemuan, pertemuan anatara satu minggu hingga lima kalai dalam seminggu.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Proses Kelompok dan Prilaku Anggota
Proses kelompok dan perilaku anggota telah menjadi bagian yang semakin sentral disiplin psikologi sosial, menangani masalah prasangka, diskriminasi, pengurangan konflik, persuasi dan pengaruh sosial, kekuasaan, pengambilan keputusan kelompok dan loyalitas etnis.
Interaksi Dalam Kelompok
a. Teori Praeksperimental
3.      Gustave Le Bon (dalam Sarwono, 2001:83-85), yang menyatakan bahwa massa (crowd) mempunyai pikiran-pikiran, gagasan-gagasan dan kehendak sendiri yang tidak sama dengan yang ada pada pribadi. Massa mempunyai jiwa (Perancis:Ame) yang berbeda dengan jiwa pribadi. Ame kelompok adalah irasional, impulsif, agresif, tidak dapat membedakan khayalan dan kenyataan, dan bagai dipengaruhi hipnotis.
4.      McDougall, menyetujui bahwa jiwa massa berbeda dengan jiwa individu. Sebagai pengendali perilaku kelompok adalah naluri emosi. Naluri emosi membedakan perilaku kelompok yang teterorganisir dan tidak terorganisir. Perbedaannya adalah pada naluri takut dan marah yang sifatnya primitif. Jika naluri primitif yang disentuh, kumpulan orang yang manapun akan bereaksi primitif (impulsif, agresif, destruktif).




SKENARIO PEMBELAJARAN YANG MENGGUNAKAN METODE – METODE BELAJAR II


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain.
Pembelajaran yang kurang memperhatikan perbedaan individual anak dan didasarkan pada keinginan guru, akan sulit untuk dapat mengantarkan anak didik ke arah pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti inilah yang pada umumnya terjadi pada pembelajaran konvensional. Konsekuensi dari pendekatan pembelajaran seperti ini adalah terjadinya kesenjangan yang nyata antara anak yang cerdas dan anak yang kurang cerdas dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti ini mengakibatkan tidak diperolehnya ketuntasan dalam belajar, sehingga sistem belajar tuntas terabaikan. Hal ini membuktikan terjadinya kegagalan dalam proses pembelajaran di sekolah.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dalam makalah, maka dapat dirumuskan masalah yang akan dibahas sebagai berikut:
1.    Apakah yang dimaksud dengan model pembelajaran Active Learning?
2.    Apa sajakah karakteristik dari Model pembelajaran Active Learning?
3.    Apa sajakah prinsip-prinsip dari Model pembelajaran Active Learning?
4.    Bagaimana sintak-sintak atau langkah-langkah dalam Model pembelajaran Active Learning?
5.    Apa saja jenis-jenis dari Model pembelajaran Active Learning?


1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, dapat dirumuskan beberapa tujuan :
1.    Mengetahui pengertian dari Model pembelajaran Active Learning
2.    Mengetahui karakteristik dari Model pembelajaran Active Learning
3.    Mengetahui prinsip-prinsip dari Model pembelajaran Active Learning
4.    Mengetahui sintak atau langkah-langkah dalam Model pembelajaran Active Learning
5.    Mengetahui jenis-jenis Model pembelajaran Active Learning
6.    Mengetahui kelebihan dan kelemahan Model pembelajaran Active Learning




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Model  Pembelajaran Aktif (Active Learning)
Model pembelajaran aktif adalah suatu model dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri merupakan tujuan akhir dari belajar aktif (active learning). Untuk dapat mencapai hal tersebut kegiatan pembelajaran dirancang sedemikian rupa agar bermakna bagi siswa atau anak didik.
Belajar aktif merupakan perkembangan teori learning by doing (1859-1952). Dewey menerapkan prinsip-prinsip “learning by doing”, bahwa siswa perlu terlibat dalam proses belajar secara spontan. Dari rasa keingin tahuan (curriositas) siswa terdapat hal-hal yang belum diketahuinya, maka akan dapat mendorong keterlibatan siswa secara aktif dalam suatu proses belajar. Belajar aktif berguna untuk menumbuhkan kemampuan belajar aktif pada diri siswa serta menggali potensi siswa dan guru untuk sama-sama  berkembang dan berbagi pengetahuan keterampilan, dan pengalaman.
Melalui model pembelajaran aktif, siswa diharapkan akan mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang mereka miliki. Di samping itu, siswa secara penuh dan sadar dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat di lingkungan sekitarnya, lebih terlatih untuk berprakarsa, berpikir secara sistematis, krisis dan tanggap, sehingga dapat menyelesaikan masalah sehari-hari melalui penelusuran informasi yang bermakna baginya. Belajar aktif menuntut guru bekerja secara profesional, mengajar secara sistematis, dan berdasarkan prnsip-prinsip pembelajaran yang efektif dan efisien. Artinya, guru dapat merekayasa model pembelajaran yang dilaksanakan secara sistematis dan menjadikan proses pembelajaran sebagai pengalaman yang bermakna bagi siswa. Untuk itu, guru diharapkan memiliki kemampuan untuk:
a.    Memanfaatkan sumber belajar dilingkungannya secara optimal dalam proses pembelajaran
b.    Berkreasi mengembangkan gagasan baru
c.    Mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh siswa dari sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh dari masyarakat
Belajar aktif meliputi berbagai cara untuk membuat siswa aktif sejak awal melakukan aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu yang singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran. Ketika peserta didik belajar dengan aktif berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran.

2.2 Karakteristik Active Learning
Pembelajaran  aktif  adalah  segala  bentuk  pembelajaran yang  memungkinkan  siswa berperan  secara  aktif  dalam  proses  pembelajaran  itu  sendiri  baik  dalam  bentuk  interaksi antar  siswa  maupun siswa  dengan  pengajar  dalam  proses  pembelajaran tersebut.
Menurut  Bonwell (1995),  pembelajaran  aktif  memiliki  karakteristik-karakteristik  sebagai berikut:
·         Penekanan  proses  pembelajaran  bukan  pada  penyampaian  informasi  oleh pengajar  melainkan  pada  pengembangan  keterampilan  pemikiran  analitis  dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.
·         Siswa tidak  hanya belajar  secara  pasif  tetapi  mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran.
Di  samping karakteristik tersebut, secara  umum  suatu  proses  pembelajaran  aktif memungkinkan  diperolehnya  beberapa  hal.  Pertama,  interaksi yang  timbul  selama  proses pembelajaran akan menimbulkan positive interdependence, dimana konsolidasi pengetahuan yang dipelajari hanya dapat diperoleh secara bersama-sama melalui eksplorasi aktif dalam belajar. Kedua, setiap individu harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan guru harus    mendapatkan  penilaian  untuk  setiap  siswa  sehingga  terdapat individual accountability.  Ketiga,  proses  pembelajaran  aktif  ini agar  dapat  berjalan  dengan  efektif diperlukan tingkat kerjasama yang tinggi sehingga akan memupuk social skills.
Dengan demikian kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan sehingga penguasaan materi juga meningkat. Suatu studi yang dilakukan Thomas (1972) menunjukkan bahwa setelah 10 menit  pelajaran,  siswa  cenderung  akan  kehilangan  konsentrasinya  untuk  mendengar pelajaran yang  diberikan  oleh  pengajar  secara  pasif. Hal  ini  tentu  akan  makin  membuat pembelajaran  tidak  efektif  jika pembelajaran  terus  dilanjutkan  tanpa  upaya-upaya  untuk memperbaikinya. Dengan menggunakan cara-cara pembelajaran aktif, hal tersebut dapat dihindari. Pemindahan peran pada siswa untuk aktif belajar dapat mengurangi kebosanan ini bahkan bisa menimbulkan minat belajar yang besar pada siswa. Pada akhirnya  hal  ini  akan  membuat  proses  pembelajaran  mencapai learning outcomes yang diinginkan.

2.3 Prinsip-Prinsip Active Learning
Untuk menjadikan aktif, maka pembelajaran harus direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis serta mengetahui prinsip-prinsipnya. Prisip-prinsip belajar aktif antara lain:
·         Stimulus belajar
Yang dimaksud dengan stimulus belajar adalah segala hal di luar individu itu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan belajar. Pesan yang diterima siswa dari guru melalui informasi biasanya dalam bentuk stimulus. Stimulus tersebut dapat berbentuk verbal atau bahasa, visual, auditif, taktik dan lain-lain. Stimulus hendaknya disampaikan dengan upaya membantu agar siswa menerima pesan dengan mudah.
·         Perhatian dan motivasi
Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu obyek. Sedangkan yang dimaksud dengan motivasi adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.
Perhatian dan motivasi akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, untuk memotivasi dan memberikan perhatian pada kegiatan belajar, guru dapat melakukan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan pembelajaran yang menyenangkan. media dan alat bantu yang menarik perhatian siswa seperti gambar, foto, diagram dan lain-lain. Secara umum siswa akan terangsang untuk belajar apabila ia melihat bahwa situasi belajar mengajar cenderung memuaskan dirinya sesuai dengan kebutuhannya.
·         Respon yang dipelajari
Belajar adalah proses belajar yang aktif, sehingga apabila tidak dilibatkan dalam berbagai kegiatan belajar sebagai respon siswa terhadap stimulus guru, maka tidak mungkin siswa dapat mencapai hasil belajar yang dikehendaki.
Keterlibatan atau respon siswa terhadap stimulus guru bisa meliputi berbagai bentuk seperti perhatian, proses internal terhadap informasi, tindakan nyata dalam bentuk partisipasi kegiatan belajar seperti memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru,
·         Penguatan
Setiap tingkah laku yang diikuti oleh kepuasan terhadap bebutuhan siswa akan mempunyai kecenderungan untuk diulang kembali. Sumber penguat belajar untuk pemuasan kebutuhan yang berasal dari luar adalah nilai, pengakuan prestasi siswa, persetujuan pendapat siswa, pemberian hadiah dan lain-lain.

2.4 Sintak atau Langkah-Langkah Active Learning
  Pembelajaran aktif (Active Learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Disamping itu, pembelajaran aktif (Active Learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa agar tetap tertuju pada proses pembelajaran. Menurut Machmudah (2008), berikut adalah sintak atau langkah-langkah model pembelajaran aktif (Active Learning) :
·         Fase 1: Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa
Dalam fase ini  guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa. Tujuan belajar yang disampaikan adalah untuk memahami sel darah pada sistem peredaran darah.
·         Fase 2: Menyajikan informasi
Dalam fase ini guru menyampaikan penjelasan umum   tentang peredaran darah kepada siswa.
·         Fase 3: Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok
Dalam fase ini guru membagikan kartu berisi informasi tentang sel darah sebagai penentuan kelompok siswa.
·         Fase 4: Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Dalam fase ini guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

2.5 Jenis-jenis Active Learning
Menurut Hamruni (2012), Model Pembelajaran Active Learning dapat diterapkan menggunakan beberapa metode, antara lain :
a.    True or False (Benar atau Salah)
Metode ini merupakan aktifitas kolaboratif yang mengajak siswa untuk terlibat ke dalam materi secara langsung. Metode ini meminta kepada siswa untuk menyatakan benar atau salah atas pernyataan yang ditulis oleh guru pada masing-masing kartu. 
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.    Guru membuat list pernyataan yang berhubungan dengan materi pelajaran, separohnya benar dan separohnya lagi salah. Masing-masing pernyataan ditulis pada selembar kertas yang berbeda. Jumlah lembar pernyataan disesuaikan dengan jumlah siswa.
2.    Guru memberi setiap siswa satu kertas kemudian mereka diminta untuk menentukan benar atau salah pernyataan tersebut. Selanjutnya guru menjelaskan bahwa masing-masing dari mereka bebas menggunakan cara apa saja untuk menentukan jawaban.
b.    Guided Teaching (Pembelajaran Terbimbing)
Metode ini merupakan aktifitas untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa atau untuk memperoleh hipotesa. Metode ini meminta kepada siswa untuk membandingkan antara jawaban mereka dengan materi yang telah disampaikan oleh guru.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.    Guru menyampaikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengetahui pikiran dan kemampuan yang mereka miliki.
2.    Guru memberi kesempatan beberapa menit kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dengan meminta mereka untuk bekerja berdua atau dalam kelompok kecil.

c.    Card Sort (Cari Kawan)
Metode ini merupakan aktifitas kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik klasifikasi, fakta tentang objek atau mereview informasi. Metode ini meminta kepada masing-masing kelompok siswa untuk mempresentasikan isi kartu yang ada di kelompoknya.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.    Guru membagi kertas yang berisi informasi kepada setiap siswa.
2.    Guru meminta siswa untuk bergerak dan berkeliling di dalam kelas untuk menemukan kartu yang kategorinya sama.
d.    The Power of Two (Gabungan Dua Kekuatan)
Metode ini merupakan aktifitas pembelajaran yang digunakan untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat pentingnya serta manfaat sinergi. Metode ini meminta kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dari guru secara individual, kemudian melakukan sharing bersama seorang siswa di sebelahnya. 
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.    Guru mengajukan satu atau dua pertanyaan kepada siswa yang menuntut perenungan dan pemikiran.
2.    Guru meminta setiap siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara individual.
3.    Setelah selesai, guru meminta mereka untuk berpasangan dan saling bertukar jawaban dan membahasnya.
Metode ini merupakan aktifitas yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kecakapan dalam bermain peran terhadap situasi kehidupan nyat
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.    Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari tiga siswa.
2.    Guru memerintahkan setiap kelompok membuat tiga skenario kehidupan nyata yang berkaitan dengan topik diskusi.
e.    Reading Guide
Pembelajaran dilakukan berbasis bacaan (teks). Agar proses membaca ini bisa efektif, maka guru memberikan pedoman (guide) membaca. Pedoman ini berisi pertanyaan – pertanyaan yang harus dijawab siswa berdasarkan isi bacaan (teks), bisa berisi tugas – tugas yang harus dilakukan siswa dalam pembelajaran.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.    Berilah siswa teks (bacaan) yang harus mereka pelajari, akan lebih baik lagi bila ditunjukkan halamannya.
2.    Mintalah peserta didik untuk membaca teks (bacaan) secara individual, kemudian membuat resume mengenai topik – topik penting yang ada dalam bacaan tersebut (berbentuk pointers).
Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar di luar kelas, keluar dari lingkungan kelas. Mereka bisa belajar di perpustakaan, warnet, mencari jurnal, dan sumber – sumber belajar yang lain.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.    Bagilah siswa dalam kelompok – kelompok kecil, sekitar 2 atau 3 orang.
2.    Berilah masing  - masing kelompok pertanyaan atau tugas yang bisa dicari jawabannya di tempat – tempat yang sudah ditunjukkan guru.
3.    Diskusikan temuan – temuan kelompok tersebut
f.     Index Car Match
Metode ini adalah cara menyenangkan lagi aktif untuk meninjau ulang materi pembelajaran. Selain itu memberi kesempatan pada peserta didik untuk berpasangan dan memainkan kuis kepada kawan sekelas.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:
1.    Pada kartu indeks terpisah, tulislah pertanyaan tentang apa pun yang diajarkan dalam kelas. Buatlah kartu pertanyaan yang sesuai dengan jumlah siswa.
2.    Pada kartu terpisah, tulislah jawaban bagi setiap pertanyaan – pertanyaan tersebut.
3.    Gabungkan dua lembar kartu dan kocok bebrapa kali sampai benar – benar acak.

2.6 Kelebihan dan  Kelemahan Active Learning
Active learning sebagai model dalam pembelajaran mempunyai keuntungan  sebagai berikut :
1.    Peserta didik lebih termotivasi
Model pembelajaran active learning memungkinkan terjadinya pembelajaran yang menyenangkan. Suasana yang menyenangkan merupakan faktor motivasi untuk peserta didik. Lebih mudah menyampaikan materi  ketika peserta didik menikmatinya. Dengan melakukan hal yang sedikit berbeda, peserta didik akan lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam pembelajaran.
2.    Mempunyai lingkungan yang aman
Kelas merupakan tempat di mana  terjadi percobaan serta kegagalan-kegagalan. Kita tidak hanya membolehkan terjadinya hal-hal tersebut, tetapi juga memberi semangat bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Resiko harus diambil untuk mendapatkan sesuatu yang berharga. Pendidik   dapat menyediakan lingkungan yang aman melalui modelling dan setting batas- batas perilaku dalam kelas.
3.    Pertisipasi oleh seluruh kelompok belajar
Peserta didik merupakan bagian dari  rencana pembelajaran. Informasi tidak diberikan pada peserta didik, tetapi peserta didik mencarinya. Beberapa kegiatan membutuhkan kekuatan, kecerdasan, dan membutuhkan peserta didik untuk menjadi bagiannya. Semua mempunyai tempat dan berkontribusi berdasarkan karakteristik masing-masing.
4.    Setiap orang bertanggungjawab dalam kegiatan belajarnya sendiri
Setiap orang bertanggungjawab untuk memutuskan apakah sesuatu hal tepat untuk mereka. Setiap orang dapat menginterpretasikan tindakan-tindakan untuk mereka sendiri dan mengaplikasikannya  sesuai dengan kondisi mereka.
Sedangkan kelemahan-kelemahan dalam penerapan model pembelajaran active learning adalah:
1.    Keterbatasan waktu
Waktu yang disediakan untuk pembelajaran sudah ditentukan sebelumnya, sehingga untuk kegiatan pembelajaran yang memakan waktu lama akan terputus menjadi dua atau lebih pertemuan.
2.    Kemungkinan bertambahnya waktu untuk persiapan
Waktu yang digunakan untuk persiapan kegiatan akan bertambah, baik waktu untuk merancang kegiatan maupun untuk mempersiapkan agar peserta didik siap untuk melakukan kegiatan.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pembelajaran aktif (active learning) untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik  pribadi mereka miliki. Di samping itu, pembelajaran aktif juga untuk menjaga perhatian siswa atau anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran


DAFTAR PUSTAKA
Bellamy, L., Barry, W., & Foster, S. (1999). A Learning Centered Approach to EngineeringEducation for the 21st Century: The  Workshop.  College of Engineering and AppliedSciences : Arizona State University.
Bonwell, C.C. (1995). Center for Teaching and Learning, Active Learning: Creating excitement in the classroom. St. Louis College of Pharmacy.
Hamruni. 2012. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta : Insan Madani
Machmudah, Ummi. 2008. Active Learning Dalam Pembelajaran Bahasa Arab. Malang : UIN-Malang Press